Kembangkan Inovasi, Keripik Kelapa Jadi Produk Baru Khas Kulon Progo

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulon Progo beserta Paguyupan Wartawan Kulon Progo (PWK) mengunjungi Industri Kecil Menengah (IKM) Kelompok Tani Hutan (KTH) Manunggal Karya, dengan branding keripik kelapa (coconut chips) Crispa di Bibis, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulon Progo Rabu (21/8/2019).  Tujuan dari kegiatan tersebut untuk mempublikasikan IKM yang ada di Kulon Progo, serta mempromosikan produk-produk di dalamnya untuk lebih dikenal masyarakat secara lebih luas.

Melihat potensi di daerah Bibis dengan jumlah pohon kelapa yang melimpah, dengan harga buah kelapa waktu itu hanya Rp500/butir. Melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, dengan fokus kegiatan adalah identifikasi potensi daerah melalui pemberdayaan masyarakat daerah penyangga suaka margasatwa Sermo, dibentuklah KTH Manunggal Karya dengan produk olahan Kelapa.

Ketua KTH Manunggal Karya Ari Widiyanto mengatakan KTH berdiri pada 2018, Awal mulanya melihat keprihatinan harga kelapa waktu itu hanya Rp500/butir, lalu pembuatan terinspirasi di youtube untuk pengolahan keripik kelapa (coconut chips) dan BKSDA Yogyakarta ikut mendampingi.

“Proses produksi pembuatan keripik ini adalah dari Kelapa dibersihkan kulitnya, kelapa dicuci, lalu di potong tipis dengan alat potong khusus, kemudian di rendam dengan perasa, lalu di kukus selama 10 menit dan di oven selama 10 jam. Kendala yang dihadapi adalah pada musim kemaru kelapa sangat tipis, selain itu pemasaran masih kurang pada pengenalan produk ke masyarakat,” jelasnya.

Ari Widiyanto menambahkan saat ini olahan keripik kelapa terdapat empat varian rasa, ada original, manis, jahe, dan gula jawa. untuk pemasarannya sementara di pusat oleh – oleh, Tomira dan online. Produksi keripik kelapa membutuhkan kelapa sekitar 12 kg dengan rata – rata 50 bungkus setiap produksi. Dibandrol dengan harga Rp15.000/bungkus ukuran 90 gram dan ukuran 60 gram dengan harga Rp9000/bungkus. Sedangkan untuk omset bersih perbulan mencapai Rp800 ribu sampai Rp1 juta.

Sementara itu, Penyuluh Kehutanan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta Siti Rohimah mengatakan salah satu tugas pokok BKSDA Yogyakarta adalah Pemberdayaan Masyarakat Desa Penyangga Konservasi Suaka Margasatwa Sermo, fokus kegiatan ini adalah dengan identifikasi potensi daerah.

“Salah satu potensi tersebut adalah kelapa, kelapa akan diolah menjadi produk dengan nilai lebih. Sampai saat ini di Kulon Progo yang lebih terkenal adalah gula semut dan nira atau legen, salah satu inovasi dari BKSDA Yogyakarta tersebut adalah pembuatan kripik kelapa,”jelasnya.     

Beberapa permasalahan muncul pada proses pengolahan, dengan pemilihan jenis kelapa muda, tidak tua atau tidak terlalu muda agar hasil lebih baik. Selain itu, ada konsumen mengeluh dengan rasa kripik yang biasa saja. Sehingga perlu kreasi
inovasi rasa dengan pangsa pasar yang terus berkembang. bekerjasama berbagai pihak untuk mendukung produk lokal tersebut.

Harapanya keripik kelapa menjadi iconnya Kulon Progo dengan dukungan dari Pemkab Kulon Progo, Dinas UMKM, Dinas Perdagangan dan Diskominfo. Dukungan tersebut sudah mulai untuk mengunggulkan produk tersebut, jadi sangat antusias. Selain itu, hasil dari pemberdayaan masyarakat di kelompok ini adalah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat setempat, kemandirian kelompok dan peningkatakan peran serta masyarakat kedalam konservasi sumber daya alam ekosistem secara keseluruhan.

Adanya presstour lokal ini dapat membantu mempromosikan produk lokal Kulon Progo agar dapat diterima oleh masyarakat secara luas. serta dapat bersaing dengan produk-produk yang lain, menunjang kemandirian serta menggelorakan semangat Bela-Beli Kulon Progo. MC Kulon Progo/hry


Related Articles