Tiga Desa di Kulon Progo menjadi Uji Coba Sensus Online 2020

Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat sedang bersiap melakukan sensus penduduk 2020 yang menjangkau penduduk Indonesia, rencana pelaksanaan menggunakan  peralatan digital. Dalam hal ini BPS Kulon Progo tengah melakukan uji coba Sensus Penduduk (SP) 2020  menggunakan Computer Assisted Personal Interviewing (CAWI) berbasis web dengan memanfaatkan jaringan internet, pada tiga Desa di Kulon Progo. Pemamparan hasil uji coba SP 2020 atau sensus online dilakukan di Bale Agung kompleks Pemkab Kulon Progo, Selasa (23/7/2019). Tersedianya data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk Indonesia menuju Satu Data Kependudukan Indonesia.

Kepala BPS Kulon Progo Sugeng Utomo mengatakan kami melakukan pertemuan dengan jajaran pejabat dilingkungan Pemkab dari Sekertaris Daerah dan Bupati Kulon Progo perihal melaksanakan uji coba SP 2020 dengan CAWI.

“Nantinya pada pelaksanaan setiap penduduk atau minimal salah satu di keluarga dapat melaksanaan sensus secara mandiri. Secara umum seharusnya kami melaksanaan sosialisasi terlebih dahulu namun terbatasnya waktu, kami langsung melaksanaan ke lapangan dengan berkoordinasi dengan Desa, harapannya Desa dapat mensosialisasi ke masyarakat,” jelasnya.

Sugeng Utomo menambahkan uji coba dilakukan pada 17 Juni sampai 28 Juni dilaksanakan di tiga Desa, yakni Desa Wates, Desa Giripeni dan Desa Purwosari. Masing desa tersebut mewakili karakter masyarakat. Wates mewakili masyarakat perkotaan, Giripeni mewakili masyarakat pedesaan dan kota, serta Purwosari mewakili masyarakt pedesaan. Juga dilakukan pendataan ketersediaan jaringan internet.

Dalam pemaparannya yang disampaikan oleh Fredy Tajekden, SST, M.Si selaku Kepala seksi Statistik Sosial BPS Kulon Progo menjelaskan pada metode sensus menggunakan metode kombinasi yakni menggunakan data Dukcapil sebagai data utama dan mengandalkan sensus mandiri melalui web. Pada proses uji coba dilakukan melalui empat tahapan.

“Tahapan pertama melakukan persiapan, publisitas, rakor dengan ketua dan perangkat dan sensus online,” jelasnya.

Hasil uji coba yang dilakukan pada tiga Desa dengan menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan Ketua satuan lingkungan setempat (SLS) undangan terdiri dari Kepala Desa/lurah perangkat/pejabat dibawahnya, serta dukuh, ketua RW dan RT  memperoleh hasil yang berbeda – beda tingkat kehadiran. Pada Desa Giripeni undangan 65 kehadiran 54 atau sekitar 83,08%, Wates dengan undangan 109 hadir 71 atau 65,14% dan Purwosari undangan 72 hadir 65 atau 90,28%. Harapanya sosialisasi dapat meningkatkan minat masyarakat untuk update data pribadi.

Selain itu, juga melakukan uji coba respon rate mengenai CAWI/sensus online di tiga desa tersebut dengan hasil Desa Giripeni dengan penduduk 26,46% keluarga 22,86%, Wates dengan penduduk 43,52% dan Keluarga 39,33 serta Purwosari penduduk 48,06% dan keluarga 40,90%. Sehingga untuk Kulon Progo didapati untuk penduduk jumlahnya 39,22% dan keluarga 34,68%.   

Sementara itu, Asisten Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam Ir. Bambang Tri Budi Harsono, M.M, mengapresiasi karena Kulon Progo menjadi uji coba dengan metode baru atau sensus online.

“Mudah - mudahan dengan metode baru dapat efisien, cepat, hemat, hasil lebih akurat, walaupun respon ratenya belum sesuai yang diharapkan,” ungkapnya.

Nantinya ada evaluasi harapanya dengan waktu yang ada perbaikan dari sisi aplikasi, sistem, sosialisasi, coba lebih diintensifkan. Ada beberapa hal yang diperhatikan dengan lokasi tertentu di Kulon Progo adanya balnk spot perlu adanya penaganan khusus, selai itu, saat entry data secara mandiri perlu diantisipasi untuk masyarakat usia lanjut. Membangun tanpa data jauh lebih mahal. Sekali lagi metode baru dapat lebih baik mendukung berbagai program pembangunan di Kulon Progo. MC Kulon Progo/Hry

 


Related Articles