Pencegahan Stunting di Kulon Progo Dilakukan Lintas Intansi

Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di Kulon Progo memerlukan sebuah gebrakan besar. Hal ini terus diupayakan melalui komitmen Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bersama seluruh intansi untuk mengurangi angka stunting.

Dinas Kesehatan Kulon Progo menggelar workshop penyamaan persepsi pendampingan Perguruan Tinggi (PT) pada program pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Kulon Progo, Jumat (28/6/2019). Dengan narasumber dari tim gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK KMK) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Serta dilakukan aksi bersama penandatanganan pencegahan stunting.

Persamaan persepsi program pendampingan antara perguruan tinggi dihadiri perwakilan  Organisasi Perangkat Desa (OPD), Camat, Dosen UGM dan Puskesmas di Kulon Progo. Narasumber Dr. Toto Sudargo, SKM, M.Kes, dan Institut Gizi Indonesia dr. Dini Latief, MSc.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Jumanto, S.H., menyampaikan pada  2017 merupakan salah satu program awal stunting dari pusat di Kulon Progo.

“Beberapa OPD, Kecamatan dan Desa berkomitmen bersama mencegah stunting agar berjalan dengan baik, kedepan mulai dari 1000 hari pertama anak lahir akan kita pantau,” jelasnya.

Jumanto menambahkan pembinaan, penyuluhan stunting melalui caten (calon pengantin) yang akan menikah, mulai dari KUA, Puskesmas dan Kecamatan, caten akan di edukasi. Serta penyuluhan tentang alat reproduksi dan stunting di sekolah di Kulon Progo.

Sementara itu, Toto Sudargo mengatakan bersyukur untuk kegiatan ini, kami bertemu OPD terkait di Kabupaten Kulon Progo dimana untuk menangani masalah stunting cukup semanagat, sistematis dan luar biasa.

“Dukungan dan program – program stunting di Kulon Progo menjadi contoh dan barometer untuk perbaikan stunting di Indonesia, dari Kulon Progo akan ditiru oleh seluruh OPD di Indonesia,” kata Toto.

Selain itu Kabupaten Kulon Progo menangani stunting secara sistematis dan baik, yang jelas ada konvergensi antar OPD terkait penanggulangan stunting.

Toto mengapresiasi pada level Desa, Kecamatan, Puskesmas, Kabupaten dan Provinsi saling terkait mendukung, yakin dengan penanganan stanting di Kulon Progo berhasil dan sukses. Harapannya komitmen program itu akan terus dijaga.

“Buapti Kulon Progo dan jajaran sangat komit dengan permasalahan stunting yang ada, sehingga muncul adanya Perbub tentang stunting kedepan akan menjadi sebuah ketetapan yang permanen dan terstruktur,” pungkasnya.

Daftar lokus intervensi terintegrasi Kulon Progo 2019 ada 10 lokus desa stunting, di lima kecamatan diantaranya Nomporejo, Tuksono, Karangsari, Sendangsari, Donomulyo, Kebonharjo, Sidoharjo, Gerbosari, Ngargosari, Pagerharjo. Di tujuh puskesmas Galur 2, Sentolo 2, Pengasih 1, Pengasih 2, Nanggulan, Samigaluh 2 dan Samigaluh 1.

Pencegahan Stunting Sekunder di 1000 Hari pertama Kehidupan (HPK) di Kulon Progo menurut Totok diantaranya Suplementasi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri, Promosi Gizi Seimbang, Penyediaan akses Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas, Pemberian edukasi gizi remaja

Perbaikan gizi masyarakat, khususnya mengatasi masalah stunting telah menjadi komitmen pemerintah pada pembangunan nasional. Stunting adalah masalah terkait dengan kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi, kesehatan ibu dan anak. memerlukan kerjasama lintas sektor dalam penanggulangannya. MC Kulon Progo/hry

 

 


Related Articles