KAWASAN WISATA BUKIT SAJEN DULUNYA BERUPA LAUTAN

Obyek wisata baru Bukit Sajen yang berada di pedukuhan Blumbang desa Karangsari, Pengasih Kabupaten Kulon Progo ini selain menyuguhkan panorama alam pegunungan menoreh dan persawahan yang menawan. Ternyata tidak kalah menarik  dengan sebagian besar berupa batu-batu besar dan hanya sedikit tertutup tanah yang tipis. Beberapa lempengan batu berlubang dengan posisi horisontal,  kemudian beberapa ada yang ditata vertikal sedemikian rupa menjadi tempat spot foto dengan hasil seperti pengambilan di dalam gua atau spot watu bolong.


Melihat keunikan bebatuan ini, Pokdarwis wisata Bukit Sajen mendatangkan Asmoro Widagdo, ST,MT dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purbalingga Jawa Tengah, Rabu (4/7).


Menurut Asmoro Widagdo, batuan yang ada di Bukit Sajen dan sekitarnya termasuk jenis batu gamping yang terbentuk dari pemadatan cangkang-cangkang hewan laut jutaan tahun silam. Meskipun berupa bukit namun pada masa yang lampau dengan melihat bebatuan yang ada, ini dahulunya berupa lautan. Kondisi ini hampir sama dengan bebatuan yang ada di sekitar Goa Kiskendo, hanya di sini tanahnya tipis sekali sedangkan di Kiskendo sudah lebih tebal.


“Ini berbeda dengan yang ada di Gunung Api Purba di Gunungkidul yang berasal dari gunung api, kalau ini berupa batuan sedimen karena dari hasil proses pengendapan diantaranya binatang atau hewan laut, sehingga batu gamping ini kalau dilihat lebih detail akan kelihatan bentuk-bentuk hewan atau binatang laut,” terang Asmoro Widagdo yang asli Kulon Progo ini.


Disamping melihat batuan sedimen yang terbentuk dari dasar laut yang kemudian terangkat menjadi bukit ada beberapa hal lain yg bisa di nikmati atau dipelajari. Di atas Bukit Sajen memandang ke arah utara ada bentang alam atau morfologi Gunung Api Purba Ijo sisi timur yang tersusun atas batuan beku dari magma panas membentuk bukit bukit bekas Gunung Api Purba. Lebih jauh ke utara lagi ada Gunung Gajah,  Gunung Api Purba yang lebih tua dari Gunung Ijo. 


Sisi utara Bukit Sajen berupa bekas patahan gempa purba Sermo-Clereng. Membentuk tebing tegak hampir 90 derajat memanjang belasan kilometer.  Ini bisa menjadi objek belajar patahan aktif seperti di gempa Opak-Bantul Jogja 2006. Di utara Bukit Sajen ada pemandangan morfologi atau bentang alam lembah Si Anak, hal ini mirip Ngarai Sianok seperti di Bukittinggi Sumatera Barat.

 

Mengamati fluvial proses atau proses oleh air dalam erosi dan pengendapan batuan. Membentuk dataran dan perbukitan yang terbentuk ribuan tahun
Asmoro Widagdo yang baru dalam proses menyelesaikan pendidikan Doktor di Pasca Sarjana  Fakultas Teknik Geologi UGM ini berharap Pokdarwis tetap mempertahankan kondisi bebatuan yang ada di wilayah obyek wisata Bukit Sajen, meskipun nantinya beberapa sarana prasarana  pendukung akan dibangun, karena keunikan batu ini justru juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.


“Silahkan obyek wisata ini dikembangkan, dengan tetap mempertahankan kondisi bebatuan yang ada, lebih menarik tanah-tanah yang ada di hilangkan sehingga akan lebih luas lagi kelihatan batuannya, tentu sangat menarik, tanahnya dimanfaatkan untuk tanaman hias atau perindang biar lebih sejuk lagi,” ujarnya.


Menanggapi saran dan usulan dari geolog tersebut, Ketua Pokdarwis Sukarjo sangat  mendukung dan berupaya untuk melestarikan kondisi bebatuan yang ada, terlebih semenjak di rintis menjadi wisata alam, berbagai sarana yang dibangun hanya berasal dari swadaya masyarakat.


“Beberapa usulan dari anggota Pokdarwis sebelumnya memang ada untuk membuat puncak Sajen yang masih berupa bebatuan dibuat rata  mendatangkan alat berat, namun dengan adanya masukan dari geolog, tentu menjadi jelas gambaran jangka panjang bagaimana mengembangkan wisata alam ini, dengan tetap menjaga keasliannya,” terang Sukarjo.


Related Articles