Menggali Sejarah Persandian di Kulon Progo 158 Orang Mahasiswa STSN Napak Tilas dan Widyakarya

 

Sebagai salah satu langkah untuk mengenang rintisan persandian di Indonesia, 158 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) Selasa (21/2), melakukan napak tilas terhadap sejarah persandian Indonesia di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang bertajuk napak tilas dan widyakarya ini didahului dengan apel pelepasan yang dilangsungkan di Lapangan Dekso, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang. Dalam apel pelepasan tersebut, dihadiri oleh Kepala Dinas Kominfo Drs. Agus Santosa, MA, Forkompinda, Camat Kalibawang Drs. Hendri Usdiarka, Camat Samigaluh Setiawan Tri widodo, S.Sos, Kepala Seksi Keamanan Informasi dan Persandian Diskominfo Dra. Sri Suyantini dan para mahasiswa STSN. Sebagai inspektur  pada apel tersebut, Ketua STSN Hendrini, SIP, MM.

Usai apel pelepasan kegiatan napak tilas persandian dan widyakarya dilakukan dengan menempuh rute Dekso menuju Desa Banaran yang dahulu menjadi rumah Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) TB. Simatupang dan berakhir di Desa Dukuh (museum sandi). Menurut Hendrini SIP,MM, kegiatan napak tilas persandian di Yogyakarta merupakan perjalanan dalan rangka mengenang salah satu babak dalam masa perintisan persandian republik Indonesia. "Dalam kegiatan ini, peserta bukan hanya menapaki jalan yang pernah dilalui oleh para perintis persandian. Namun juga memberikan penghayatan nilai-nilai perjuangan persandian yang dimiliki oleh para perintis," katanya.

Rute yang dilalui dalam kegiatan napak tilas, lanjutnya, merupakan salah satu rute yang dilalui oleh para perintis persandian dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI dari adanya Agresi Militer Belanda II. Agresi tersebut memaksa para personel sandi keluar dari kota Yogyakarta untuk terus memberikan pelayan persandian guna mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Kulon Progo Drs. Agus Santosa, MA mengharapkan agar kegiatan napak tilas, selain untuk mengenang sejarah persandian juga dapat digunakan oleh para peserta untuk mengenal alam di Kulon Progo. Karena dengan mengenal alam Kulon  Progo, mahasiswa akan mengerti betapa berat perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. "Napak tilas akan melalui rute yang dahulu dilalui oleh para pahlawan persandian. Sehingga mahasiswa akan semakin memahami beratnya perjuangan yang dahulku telah dilakukan," katanya.

Di sisi lain, Drs. Agus Santosa, MA berharap kedepan STSN dapat merekrut mahasiswa dari Kabupaten Kulon Progo. Karena Kulon Progo akan selalu memiliki kedekatan emosional dengan perkembangan persandian di republik Indonesia, lanjutnya.

 

 


Related Articles