2030 Tidak ada Stunting di Kulon Progo

Angka penderita stunting di Kabupaten Kulon Progo masih cukup tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo menunjukkan angka stunting di daerah ini mencapai 14, 31 persen atau sekitar 3.157 anak.
Untuk itu. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama unsur terkait melakukan Monitoring dan Evaluasi pendampingan stunting, pada hari Senin (4/11), di Bale Agung Setda Kabupaten Kulon Progo, agar pada tahun 2030 kasus stunting di Kabupaten Kulon Progo bisa menjadi nol persen.Menurut Asisten Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesra, Jumanto, S H., Stunting adalah masalah kompleks yang terkait dengan kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi, kesehatan ibu dan anak, penyakit, pendidikan, kondisi lingkungan dan sanitasi, serta keamanan pangan dan gizi. Di Kulon Progo angka stuntingnya masih di bawah indeks nasional. Oleh karena itu dengan adanya monitoring dan evaluasi ini diharapkan jumlah anak yang mengalami stunting bisa menurun.
Lebih lanjut dalam sambutannya, Jumanto, menyampaikan bahwa di Kulon Progo selain menempati angka gangguan kesehatan jiwa tertinggi se-DIY juga menempati angka stunting tertinggi se DIY. Hal ini yang membuat Kulon Progo perlu mendapat evaluasi langsung dari Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia.
“Kabupaten Kulon Progo masih tergolong Kabupaten yang miskin, angka kesehatan jiwanya paling tinggi se DIY juga di Kulon progo. Dan masih termasuk daerah yang tinggi angka stuntingnya. Meskipun demikian perlahan angka stuntingnya sudah mulai berkurang dengan adanya posyandu, hal ini terbukti dari lima posyandu di Kabupaten Kulon Progo yang sudah mengikuti lomba di taraf Nasional." jelas Jumanto.Menanggapi hal tersebut, Ketua Yayasan Kegizian dan untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia, Profesor Soekirman, mengatakan, indikator stunting sebenarnya sukar untuk dihitung, tetapi ada indikator pasti untuk mengukur stunting antara lain adanya posyandu yang aktif dan inovatif untuk mengurangi angka stunting. Meskipun demikian ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi seperti pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri dan sosialisasi kesehatan reproduksi bagi remaja serta larangan merokok di lingkungan rumah.“Saya senang di Kabupaten Kulon Progo Posyandunya sudah aktif dan inovatif, dengan demikian seharusnya angka stunting di Kabupaten Kulon Progo bisa menurun. Selain itu, Puskesmas juga harus berperan aktif guna mendukung faktor lainnya seperti pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri dan sosialisasi kesehatan reproduksi bagi remaja, dan membatasi asap rokok agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi tersebut." Ujar Soekirman.
Soekirman percaya di Kabupaten Kulon Progo, sudah ada berbagai upaya untuk mengurangi kasus stunting, yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat bekerjasama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada.. Selain itu dengan adanya inovasi aplikasi "BumilKu" diharapkan bisa mengurangi angka stunting yang ada di Kabupaten Kulon Progo. MC/ Luthfiy/ Citra


Related Articles