Nglarak Blarak: Budaya dan Olahraga dalam Satu Permainan

Wates – Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo bersama dengan Karang Taruna Kulon Progo menggelar acara Nglarak Blarak dalam rangkaian Menoreh Art Festival (MAF) dalam rangka memerihkan hari jadi Kabupaten Kulon Progo ke-67. Nglarak Blarak diikuti oleh 12 Kecamatan se- Kabupaten Kulon Progo di Alun-alun Wates. Sabtu (27/10).

Acara dibuka dengan menggelindingkan  oleh Asisten I, Jumanto S.H, mewakili Bupati Kulon Progo serta Kepala Dinas Kebudayaan dan camat yang ada di Kulon Progo. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOMPIMDA), Organisasi Pimpinan Daerah (OPD), Camat dan Kepala Desa se-Kulon Progo, Karang Taruna se-Kulon Progo maupun Purna Karang Taruna DIY dan Kulon Progo.

Nglarak Blarak merupakan suatu kebudayaan sekaligus olahraga yang berkembang di Kabupaten Kulon Progo, berawal dari masyarakatnya yang kebanyakan beraktifitas menderes nira kelapa, dimainkan dengan pelepah daun kelapa, bumbung kelapa dan diiringi dengan musik gamelan, hal ini menjadi kombinasi unik antara olahraga, kesenian dan budaya sekaligus menjadi hiburan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Drs. Untung Waluya menyampaikan bahwa Olahraga Ngalarak Blarak pernah diikutkan dalam festival tingkat nasional dan menjadi penyaji terbaik pada tahun 2014 dan 2016. Selain itu, Pemerintah DIY dan Kulon Progo olahraga Nglarak Blarak juga menjadi juara satu di tingkat internasional yang diikuti oleh 146 negara pada tahun 2017.

“Sebagai generasi muda yang terhimpun dalam Karang Taruna, mulai dari kegiatan yang sifatnya sederhana ketika kita kemas, kita olah dan kita apresiasi dengan benar  bisa mengangkat nama besar Kabupaten Kulon Progo, maka dari itu warga dan generasi muda harus siap menghadapi kemajuan pembangunan di Kabupaten Kulon Progo,” tambah Untung.

Bupati Kulon Progo, dr. H. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) dalam sambutanya diwakili oleh Asisten I, Jumanto S.H, menyampaikan mengenai Filosofi Nglarak Blarak yang kerap disingkat menjadi “nglabrak” yang dalam Bahasa Indonesia berarti menabrak, memiliki makna bahwa kita harus terus melawan kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan.

Nglarak Blarak atau dianggap suatu perpaduan antara edukasi, prestasi dan rekreasi.  Dengan ini kita berharap bisa melestarikan dan mengembangkan permainan Nglarak Blarak mulai dari dari generasi muda bahkan ke semua wilayah sehingga menjadi identititas Kabupaten Kulon Progo,” tutur Jumanto.

Tahun ini, Nglarak Blarak merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan di Kulon Progo. Perlombaan ini diikuti oleh 12 Kecamatan di Kulon Progo sebagai peserta untuk memperebutkan juara 1, juara 2, juara 3, dan juara 4.

Kecamatan Galur mengakhiri pertandingan sebagai Juara 1 Nglarak Blarak dan berhak mendapatkan trophy serta uang pembinaan sebesar Rp 6.000.000. Untuk Juara 2 dengan hadiah berupa trophy dan uang pembinaan sebesar Rp 5.000.000 diraih oleh Kecamatan Temon. Juara 3 dengan hadiah berupa trophy dan uang pembinaan sebesar Rp 4.000.000 diraih oleh Kecamatan Nanggulan. Sedangkan untuk Juara 4 dengan hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp 3.000.000 diraih oleh Kecamatan Kokap.