Gladhen Jemparingan Mataram Tingkat Nasional

Wates - Dalam rangka menyemarakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kulon Progo ke-67, Dinas Kebudayaan menyelenggarakan Gladhen Jemparingan Mataram Tingkat Nasional yag diikuti oleh 600 peserta di Alun-alun Wates, Kulon Progo. Minggu (21/10). Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dilanjutkan dengan pertunjukan Tarian selamat Datang dari pelajar se-Kulon Progo.

Pada acara Gladhen Jemparingan Mataram turut hadir Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo, DPRD Kulon Progo Akhid Nurhyati, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA), Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Drs.Untung Waluya, Ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) Kulon Progo Bambang Gunoto, Ketua Panitia Menoreh Art Festival (MAF), Ketua Jemparingan Tingkat Nasional Kulon Progo, serta para Atlet Jemparingan Mataram.  

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito saat ditemui sebelum acara jemparingan dibuka, menyampaiakan bahwa Gladhe Jemparingan tahun ini luarbiasa karena biasanya acara Gladhen Jemparingan dihadiri oleh 300 sampai 400 peserta namun sekarang ini ada 600 peserta, artinya Kulon Progo sudah dilirik oleh banyak komunitas jemparingan sebagai ajang silaturrahmi. Peseta berasal dari Bali, Madura, Boyolali, Surabaya, Magetan, Karanganyar, Solo, Magelang, Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Cirebon dan Jawa Barat, kita berharap ini menjadi media promosi yang efektif bagi pemerintah dan masyarakat Kulon Progo.

Pada laporan panitia Untung menuturkan “Kebanggan dan kebahagiaan yang tak terhingga karena kulon Progo selama dua tahun ini menjadi ajang pertemuan serta diselenggarakan kongres nasional sehingga dari Kulon Progolah budaya mataram untuk nusantara. Semoga ada rasa tumbuh persatuan, kesatuan dan semangat seluruh anak bangsa di negeri ini melalui semangat di Kulon Progo pagi ini,” ungkapnya.

Gladhen Jemparingan Mataram dibuka langsung oleh Wakil Bupati dengan memanah bersama dengan kepala dinas kebudayaan dan ketua KONI. Sutedjo, menyampaikan bahwa makna filosifi Jemparingan tidak hanya sekedar olahraga panahan, akan tetapi seni mengolah rasa. Seorang pemanah dengan duduk bersila tidak hanya sekedar berkonsentrasi untuk melepaskan busur panahnya, tetapi sangat membutuhkan perasaan, sehingga diperlukan ketenangan, yang menjadi filosofi Jemparingan bahwa seseorang mempunyai ketenangan dalam mengambil keputusan, agar keputusan tersebut juga tepat sasaran sesuai dengan yang diharapkan.

“Saya berharap tidak hanya sesepuh dan pinisepuh yang melakukan olahraga jemparingan tetapi generasi muda tidak boleh hanya terlarut dalam kemajuan teknologi melalui media sosial tetapi juga harus mengenal lebih dekat makna atau filosofi dari Jemparingan, agar nantinya menjadi generasi emas yang berkarakter, beretika dan bertanggungjawab” tambah Sutedjo.

Gladhen Jemparingan Mataram tahun ini bukan hanya diikuti oleh orang dewasa nanum juga anak-anak yang menggemari olahraga Jemparingan. Peserta Jemparingan tradisional dari Bali, Isna Agung “saya senang ikut Jemparingan karena cara mainnya seru, kita belajar membidik, belajar ketenangan dan saya latihan sudah dua tahun juga sering dapat juara Jemparingan,” katanya.