Tribuana Manggala Bhakti Jaga Bumi Tetap Lestari

Umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo yang mendiami wilayah menoreh menyambut dan merayakan waisak dengan kegiatan yang khas dan unik. Dimulai dengan tabur bunga untuk mendoakan serta berbakti pada leluhur, pengambilan tirta suci dan sebulan pendalaman dan pengamalan ajaran Buddha. Kegiatan tersebut terbingkai dalam Upacara Adat Tribuana Manggala Bhakti di Ekowisata Sungai Mudal, Banyunganti, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, dihadiri oleh Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo, Pembina Umat Budha Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Suryono, Kepala Desa Jatimulyo Anom Sucondro serta Romo Totok. Minggu (13/5).

 

Surahman selaku koordinator acara Tribuana Manggala Bhakti memaparkan Upacara Adat Tribuana Manggala Bhakti merupakan kegiatan pelestarian tiga alam yang dikemas dalam budaya Jawa dengan ajaran Buddha. Tujuan diadakannya acara tersebut untuk berperan aktif dalam menjaga bumi tetap lestari termasuk menjaga satwa dan fauna, melestarikan kebudayaan Jawa, menjaga aspek religi dengan tidak meninggalkan unsur-unsur kebudayaan yang ada, mengenalkan sikap peduli terhadap lingkungan alam, menguraikan ajaran Sang Budha dan mempererat tali persaudaraan antar umat Budha di Kulon Progo.

 

Serangkaian Upacara Adat Tribuana Manggala Bhakti meliputi pengambilan air suci atau tirta amerta di Ekowisata Sungai Mudal yang terletak di kaki Gunungkelir jajaran perbukitan Menoreh yang diiringi dengan Gendhing Tribuana hasil karya Tim Yavastin, upacara penanaman pohon berupa pohon bodhi, mahoni, jati, sengon, manggis, durian, matoa dan pete dengan total 1.600 pohon, pelepasan satwa burung endemik Kulon Progo seperti perkutut, kutilang, trotokan dan yang terakhir pelepasan satwa ikan sebanyak 1000 ekor di sungai Mudal dan sungai sekitar lokasi Vihara Giriloka.” ujar Surahman.

 

Wakil Bupati Kulon Progo, Sutedjo menyampaikan bahwa dengan tema Berkah Waisak Membawa Damai Harmoni dalam Kebhinekaan artinya umat Buddha ikut memelihara alam serta menyemarakkan tempat wisata di Kabupaten Kulon Progo.

 

“Marilah kita tingkatkan spirit pelestarian alam dengan tidak abai terhadap kelestarian alam disekitar kita. Sifat Budha yakni Maha Kasih dan Maha Bijaksana semoga bisa sebagai bekal umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo untuk hidup dalam lingkungan yang majemuk, harmonisasi dan kedamaian dapat terlaksana.” paparnya

 

Sementara Ema Kartika (20) warga Branti, Gunung Kelir berharap acara Tribuana Manunggal Bhakti tetap berjalan disetiap tahunnya sebagai salah satu wujud kegiatan dalam melestarikan alam.

 

“Umat Buddha di sekitar pegunungan Menoreh bersama lintas agama telah bahu membahu melestarikan alam, semoga acara Tribuana Manggala Bhakti tetap berjalan disetiap tahunnya. Kegiatan ini sebagai media edukasi untuk membulatkan tekad peduli terhadap kelestarian lingkungan.” kata Ema.