STUNTING, PRIORITAS UTAMA MASALAH GIZI ANAK

 

Wates—Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia menggelar sosialisasi gerakan nasional sadar gizi dalam rangka penurunan prevalensi stunting. Sosialisasi tersebut di gelar dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi Lembaga Komunikasi Sosial sebagai bagian dari jaringan diseminasi informasi pemerintah dan sebagai agen informasi di masyarakat.

Kegiatan yang  berlangsung sehari di Kings Hotel Wates, Jum’at (8/12) peserta yang hadir dalam sosialisasi ini berjumlah 80 orang terdiri dari unsur Kelompok Informasi  Masyarakat (KIM), Metra, Radio Komunitas, Tenaga Kesehatan (Posyandu, Bidan Desa, Kader Kesehatan), kader PKK, Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pegiat Media Sosial di wilayah Kabupaten Kulon Progo.

Direktur Kemitraan Komunikasi Dedet Surya Nandika mewakili Dirjen Informasi Komunikasi Publik Kementerian Kominfo RI minta untuk bersama-sama bersinergi menurunkan masalah stunting pada balita Indonesia. Masalah kurangnya gizi dan keterlambatan pertumbuhan hingga menyebabkan kekerdilan fisik (stunting) pada balita merupakan masalah yang seriuas. Sebab anak-anak Indonesia adalah pewaris masa depan bangsa ini. Oleh karenanya diharapkan acara ini mampu menjelaskan kepada peserta dan masyarakat luas agar mengerti tentang bagaiman cara menurunkan stunting  dan demikian akses informasi bagi masyarakat akan menyadari dan paham bagaimana menjalani hidup yang sehat agar tidak mengalami kurang gizi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan urusan pemerintah di bidang komunikasi dan informatika membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara menghadirkan dua narasumber dari Kasubdit Kewaspadaan Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, R. Giri Wurjandaru, SKM, M.Kes dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, dr. Bambang Haryanto,M.Kes.

Dalam paparannya R. Giri Wurjandaru, SKM, M.Kes menjelaskan tentang pentingnya asupan gizi terhadap tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, menu makan harus di sajikan dengan asupan gizi yang memadai. Control asupan gizi akan menentukan tumbuh kembang anak, apakah anak akan berdampak gizi buruk ataukah anak akan mengalami gizi baik.

“Usia tumbuh dan berkembang anak sangat cepat, sehingga membutuhkan asupan gizi yang baik. Anak-anak yang mengalami penurunan nafsu makan dan daya tubuh rentan lebih mudah terkena infeksi atau gizi buruk yang mempengaruhi pada tingkat kecerdasan anak. Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan pentingnya 1000 hari pertama kehidupan ketika anak dalam kandungan atau janin dan bayi umur 2 tahun”, jelas Giri.

Sementara dr. Bambang Haryanto,M.Kes. membekali orang tua dengan program konvergensi penurunan stunting pada anak. Yang dimaksud dengan konvergensi penurunan stunting yaitu terletak pada satu titik masalah gizi kronis yang di sebabkan oleh  asupan pangan/gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Sehingga antara asupan pangan/gizi dengan kesehatan harus seimbang. Berdasarkan data yang di adopsi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Kabupaten Kulon Progo di urutan ke 43 Lokus 100 Kabupaten /Kota utama untuk Intervensi Stunting. Dan jumlah balita stunted di 10 Desa Lokus penanggulangan stunting pada tahun 2017 yang paling tinggi angkanya adalah Puskesmas Pengasih 2 Desa Karangsari berjumlah 132 stunted dari 545 jumlah balita yang di ukur atau sebesar 24,22 % di bandingkan dengan  9 Desa yang lain di Kabupaten Kulon Progo. “Adapun keseimbangan antara asupan gizi dengan kesehatan memiliki penyebab secara tidak langsung yaitu aksesibilitas pangan, pola asuh, dan air minum/sanitasi. Inilah pentingnya mengapa kita sebagai orang tua perlu tahu dan paham agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sehat, gizi baik, sehingga kesiapan masa depan mereka kita perlu siapkan sejak dini”, ujarnya.