Konten Website PPID Desa/Kalurahan akan Menarik Jika Melibatkan Masyarakat dan Memperhatikan Potensi

Selasa (30/03/2021), Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kulon Progo kembali mengadakan Bimtek PPID Desa/Kalurahan di Rumah Makan Dapur Semar. Acara ini merupakan Bimtek hari keempat arau hari terakhir dari Bimtek yang telah dilaksanakan mulai 25 Maret 2021. Bimtek kali ini diikuti 22 Kalurahan dari Kapanewon Wates, Panjatan, Galur, dan Lendah.

Seperti yang telah disampaikan beberapa hari sebelumnya, Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan PPID Desa/Kalurahan secara umum dalam penyampaian informasi publik, sejalan dengan UU Nomor 6 th 2014 tentang Desa, UU Nomor 14 th 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dan Perbup Kulon Progo Nomor 5 th 2019, tentang PPID Desa.

Kasie Pengelolaan Informasi Publik Dinas Kominfo, Ir. Heri Budisantosa mengemukakan, penyelenggaraan pemerintahan di Desa sangat berdekatan dengan masyarakat, sehingga kita perlu melaksanakan keterbukaan terhadap informasi yang dibutuhkan masyarakat. Salah satu langkahnya yaitu dengan adanya kelengkapan dokumentasi dan informasi yang ada di website PPID Desa.

“Hari ini harapannya kita dapat mempelajari bagaimana meningkatkan website PPID Desa/Kalurahan. Selain itu juga, kedepannya diharapkan PPID Desa/Kalurahan ini bisa maju dalam  monev PPID Desa/Kakurahan di Kabupaten, Provinsi, hingga ke tingkat Nasional”, ungkap Heri Budisantosa.

Keberadaan PPID Desa/Kalurahan ini diharapkan tidak hanya sekedar nama saja, tetapi harus berwujud atau ada aktifitasnya dalam artian benar-benar bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hal ini disampaikan langsung oleh Kabid IKPS Dinas Kominfo, Bambang Susilo, S.Si, M.Eng. Dengan adanya Bimtek ini, diharapkan bisa menambah wawasan bagi pengelola website PPID Desa untuk lebih mengoptimalkan pengelolaan  konten website PPID Desa/Kalurahan sebagai media informasi bagi masyarakat.

“Biasanya website pemerintah itu kurang menarik bagi masyarakat baik dari segi tampilan maupun konten. Hal ini merupakan tantangan bagi kita untuk menjadikan website lebih menarik agar lebih dikenal oleh masyarakat, salah satunya dengan mengelolanya berdampingan dengan media sosial. Kami berharap setelah bimtek ini, Pemerintah Kalurahan tidak berjalan sendiri dalam pengelolaan informasi publik, tetapi juga bisa menggandeng lembaga yang ada di masyarakat diantaranya KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) sebagai mitra kerja dalam menghimpun informasi yang ada di masyarakat”, ujar Bambang Susilo.

bimtk ppid desagambar. Bimtek PPID Desa

Masih sama seperti beberapa hari sebelumnya, Penggiat Website dan Media Sosial, Dimas Witjaksana berkesempatan menjadi narasumber Bimtek PPID Desa ini. Dimas berpendapat, website itu seperti rumah dimana jika tidak diberi alamat, tidak diberi jalan maka tidak akan ada yang tahu.

“Sama halnya dengan website yang tidak bisa berdiri sendiri, butuh kaki-kaki untuk menopang, salah satunya yaitu media sosial (facebook, twitter, instagram, dan lainnya). Untuk saat ini, yang terpenting adalah mengamankan username media sosial instansi bapak/ibu agar tidak dikelola oleh sembarang orang guna melindungi penyebaran informasi HOAKS atau provokatif. Terlebih di masa pandemi ini, masyarakat lebih aktif dalam menggunakan media sosial”, tegas Dimas.

Dalam pengelolaan website, kunci keberhasilan suatu konten yaitu keselarasan dan kebersamaan. Konten tidak hanya berupa kegiatan pemerintahan, tetapi bisa juga berupa kegiatan yang ada di desa maupun kekayaan alamnya.

“Sumber daya alam yang ada di daerah bapak/ibu mungkin bisa menjadi konten yang bagus. Kelemahan yang ada di masyarakat kita dalam menjalankan sebuah program itu hanya sekedar rasane, koyone, ketoke tanpa melalui riset atau perencanaan yang matang. Sama halnya dengan bapak/ibu dalam mengelola website maupun media sosial, agar dapat lebih optimal pengelolaannya, maka perlu adanya kerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dalam menghimpun informasi/kegiatan yang ada di desa bapak/ibu sekalian”, ujar Dimas.

Disebuah media sosial tentunya akan mengalami adanya isu-isu atau HOAKS, untuk mengatasinya perlu membuat isu atau konten yang lebih bagus. “Masukkan isu atau konten yang lebih bagus untuk meredam isu yang sudah ada daripada kita merespon isu tersebut. Karena di dunia maya, semakin kita merespon suatu isu, maka isu tersebut akan semakin besar”, ungkap Dimas.

Dimas juga menjelaskan, untuk membuat sebuah konten di desa, kita bisa melibatkan sumber daya manusia yang ada yakni dengan mengunjungi sesepuh di desa tersebut untuk menghimpun informasi, cerita, fakta yang tidak diketahui oleh masyarakat sekarang tentang desa tersebut. Selanjutnya, manfaatkan pemuda-pemudi untuk mengeksekusi atau mengerjakan kontennya sebagai pihak yang lebih paham tentang kondisi media sosial sekarang ini.

“Ketika itu bisa berjalan dengan baik, maka konten website atau media sosial bapak/ibu akan lebih otentik. Ketika bapak/ibu promosi di media sosial, jangan segan-segan mention atau tandai akun-akun publik media sosial yang lebih besar”, tegas Dimas.

(Mn/Ns/IKPS/KominfoKP)