Village Branding dan Diferensiasi Penting dalam Pengelolaan Konten Website PPID Desa

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kulon Progo melalui Bidang Informasi dan Komunikasi Publik dan Statistik (IKPS) mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada PPID desa di Kabupaten Kulon Progo.

Pada Bimtek kali ini dihadiri 21 peserta perwakilan PPID Desa dari Kapanewon Wates dan Kapanewon Temon.

Bimtek yang kedua ini diselenggarakan di Rumah Makan Dapur Semar, Wates, Kulon Progo pada Jumat (26/03/2021).

Pada kesempatan ini, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik, Dinas Kominfo Kabupaten Kulon Progio, Ir. Heri Budisantosa menjelaskan, bahwa pertemuan ini adalah agenda rutin tahunan Bimtek PPID Desa. Sama seperti tahun kemarin, tema yang dibahas dalam pertemuan ini adalah mengenai konten website. Konten website dibahas kembali karena pentingnya materi ini dalam pengelolaan PPID Desa.

Menurut Heri Budi Konten berisi informasi dan dokumentasi sesuai dengan Perbub Nomor 5 tahun 2019 terkait PPID Desa yang juga banyak menyinggung tentang Standar Layanan Informasi Publik Desa (SLIP) Desa, yang banyak membahas tentang dokumen-dokumen pemerintah daerah khususnya pemerintah desa.

"Dokumentasi dan informasi sesuai dengan amanat UU no 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik harus disampaikan kepada masyarakat." Ujar Heri Budi.

Dasar hukum yang kedua adalah Undang-Undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa. "Seperti diketahui bahwa penyelenggaran pemerintahan desa salah satunya adalah keterbukaan, apalagi Desa sangat dekat atau bersentuhan langsung dengan masyarakat. Hal ini sesuai juga dengan amanat Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), dimana setiap Badan Publik diwajibkan untuk mengumumkan, menyediakan dan melayani informasi publik secara benar, akurat, dan tidak menyesatkan.

“Kita berharap keterbukaan informasi ini bisa murah, mudah, efektif serta cepat untuk didapat oleh masyarakat. Oleh karena itu, pemilihan tema pada hari ini dengan maksud untuk memaknai dari Undang-Undang tersebut”, ujar Heri Budi.

Sementara itu, Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik dan Statistik (IKPS), Bambang Susilo, S.Si., M.Eng., menyampaikan, sesuai dengan amanat undang-undang KIP, diamanatkan kepada semua Badan Publik tidak terkecuali pemerintah Desa / Kalurahan untuk bisa memberikan informasi publik. Informasi publik tersebut seperti kegiatan pemerintahan, pembangunan, penyampaian informasi terkait budaya, potensi alam, maupun informasi lainnya yang sedang viral di kalurahan masing-masing sehingga bisa diketahui oleh masyarakat luas.

“Tidak ada alasan bagi kita untuk menutup data/dokumentasi atau informasi terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah.

Kami berharap dengan adanya PPID Desa/Kalurahan akan membuka era baru di pamong Desa/Kalurahan bahwa yang namanya informasi, data dan sebagainya itu sekarang harus bisa diketahui oleh masyarakat luas”, ujar Bambang.

Lebih jauh Bambang menambahkan, untuk bisa memberikan pelayanan yang optimal, banyak media yang bisa digunakan oleh pemerintah desa, seperti pengumuman di dinding atau baliho. Namun, saat ini kita sudah memasuki era digital dimana segalanya serba online. Bisa dilihat bahwa hampir semua orang bisa mengakses internet secara mudah. Sehingga, untuk memberikan pelayanan yang optimal, terus mengupdate isi website hukumnya wajib di masing-masing Badan Publik.

Gambar. Diskusi Bimtek

Pada acara inti narasumber yang juga merupakan penggiat Website dan Media Sosial DIY, Dimas Witjaksana menjelaskan, tentang pentingnya Village Branding atau strategi media desa.

“Kenapa membicarkan Village Branding dalam konten website? Karena setiap aktivitas yang kita lakukan, mengelola situs, mengelola Media Sosial, itu adalah salah satu aktivitas yang tujuannya membuat branding desa. Sekarang ini, desa punya kemampuan otonom, walaupun begitu desa saat ini masih sangat konvensional. Bukan berati tidak bagus hanya saja terlalu mainstream. Ketika mainstream atau biasa, audien / masyarakat / netizen menjadi tidak tertarik”, tutur Dimas.

Dimas menjelaskan, cara agar website desa yang dikelola bisa dikenal oleh masyarakat luas adalah kita harus mempunyai sesuatu yang menarik. Jika mempelajari digital marketing, kita akan menemukan bahwa dalam branding yang paling penting adalah ciri khas atau diferensiasi, yang berarti pembeda dari yang lain. Supaya website menarik, kontennya harus dibedakan dengan yang lain. Dalam bahasa manajerial namanya adalah USP atau Unique Selling Proposition. Jika tidak ada yang berbeda maka market akan biasa saja.

Dalam sesi diskusi, salah satu peserta Bimtek, Nur dari Kalurahan Kulur menanyakan solusi terkait cara untuk mendiferensiasi website agar tidak monoton, karena di Kulon Progo ini sudah ada website untuk 87 Desa akan tetapi temanya sama, kemudian tampilannya juga sama dan tidak bisa dirubah warna.

“Bagaimana cara mengoptimalkan konten yang bagus apabila kita untuk mengoptimalkan User Interface nya saja tidak bisa?”, tanya Nur.

Dimas menjawab bahwa diferensiasi yang dimaksudkan di sini adalah diferensiasi konten, bukan User Interface di website.

“Pallet warna boleh sama, template boleh sama, tetapi konten pasti berbeda. Jika mempelajari pemasaran, ada istilah marketing mix yang disana terdapat empat elemen yang penting, yaitu Product, Place, Price, dan Promotion. Kalau mau cari diferensiasi, carilah diferensiasi dengan empat elemen itu. Cari produk / komoditas yang khusus ada di desa masing-masing apa , kemudian Place nya berbeda, karena kondisi geografisnya juga pasti berbeda , kemudian Promosi nya juga berbeda, People nya berbeda. Itulah perbedaan kontennya”, jelas Dimas.

(Ns /IKPS/KominfoKP)