Dari Hobi Merubah Ghoni Jadi Bernilai Tinggi

Wates - Bidang Informasi Komunikasi Publik dan Statistik (IKPS) Dinas Kominfo Kulon Progo melaksanakan kegiatan presstour lokal bersama dengan awak media atau wartawan yang tergabung dalam Paguyuban Wartawan Kulon Progo (PWK), Jumat (29/1/2021).

Kepala Dinas Kominfo Drs. Rudiyatno, M.M menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan sebagai salah satu bentuk upaya pemerintah membantu masyarakat khususnya para pengrajin di Kulon Progo.  Misi utamanya adalah menginformasikan lebih luas ke masyarakat, seperti apa produk-produk pengrajin yang ada.

“Disini kita mengajak rekan-rekan pewarta untuk bisa membantu menyebarluaskan tentang produk-produk unggulan di Kulon Progo, supaya lebih dikenal luas baik lokal, regional bahkan sampai tingkat nasional”, ujar Rudiyatno.

Ditambahkan Kabid IKPS Bambang Susilo, S.Si, M.Eng, agenda ini intinya untuk menfasilitasi publikasi kegiatan masyarakat diberbagai bidang. Tidak hanya terpaku pada kegiatan ekonomi saja, namun bisa juga dari sosial, pariwisata juga kuliner. Dengan publikasi ini diharap dapat meningkatkan pendapatan pelaku usaha itu sendiri maupun kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

“Apalagi dengan kondisi Covid ini banyak bidang usaha yang terdampak, melalui ini kita berharap dapat membantu para pelaku usaha dalam hal publikasi maupun pemasaran produknya”, ungkap Bambang.

Harapan kegiatan ini bisa direspon OPD untuk menfasilitasi para pelaku usaha di Kulon Progo. Serta juga bisa menarik minat pihak-pihak swasta guna bisa menjalin kerjasama yang menguntungkan.

Kegiatan yang bertempat di rumah pengrajin tas goni beralamat di Wates, Wetan pasar Rt 037 Rw 017 Kapanewon Wates ini bertujuan mempromosikan potensi UKM lokal Kulon Progo yaitu kerajinan tas yang berbahan dasar karung goni agar lebih dikenal masyarakat luas melalui publikasi media baik cetak maupun elektronik

Menurut Tri Nur Utami pemilik kerajinan tas goni dengan label Ghoniku ini usahanya sudah dijalankan kurang lebih selama empat tahun. Berawal dari tertarik melihat banyak ghoni di Pasar Beringharjo tercetuslah ide untuk dibuat tas. Dan ternyata responnya bagus, banyak yang suka jadi terus diproduksi sampai sekarang.

"Ya awalnya saya iseng saja, dari kesukaan saya membeli tas jadi berpikir untuk membuat sendiri dari ghoni yang tidak banyak orang punya,"ujar Tami

Dalam memproduksi tas ghoni Tami dibantu enam pegawai. Produknya pun tidak hanya tas saja tapi dompet' tempat tisu dan bisa juga melayani pesanan model sendiri. Misal sandal jepit,sarung bantal atau produk lainnya asalkan bahan bakunya tersedia.

Selain pasar lokal dan nasional, Ghoniku sudah merambah pasar di Singapura dan Malaysia. Harga produknya sendiri berkisar mulai dari Rp30 ribu sampai Rp350 ribu.

Tami pun menuturkan kalau Ghoniku juga bekerja sama dengan pengrajin lain. Seperti pengrajin kain tenun dari daerah Sentolo, Nanggulan dan daerah lain di Kulon Progo untuk mengangkat potensi lokal serta saling menguatkan di masa pandemi ini. Selain dengan tenun, ghoni bisa dikombinasikan juga dengan lurik dan batik.

Dari sisi pendapatan, omset ghoniku sebelum pandemi mencapai Rp60 juta perbulan. Tetapi di masa pandemi ini menurun bahkan sampai Rp5 juta saja dalam sebulan.

"Selama pandemi Covid ini kami hanya produksi ghoni jika ada pesanan saja," keluh Tami.

Kendala yang lain adalah ketersediaan bahan baku dan harga ghoni yang naik dua kali lipat dari biasanya dan harus mencari-cari bahkan sampai Surabaya.

Ia berharap dapat difasilitasi pemerintah untuk membuat showroom di YIA, Saat ini memang produk sudah bisa dipajang di bandara secara gratis, namun posisinya tidak strategis untuk dilihat. Sedangkan untuk tempat-tempat strategis dikenakan tarif yang mahal. MC Kulon Progo/Tinuk/Hry