Industri Di Kalurahan Hargomulyo Kokap Siap Dukung Program GRBB

Industri growol di Kalurahan Hargomulyo siap dukung suksesnya Gayeng Regeng Blonjo Bareng yang diprakarsai oleh Bakor PKP Jakarta. Menurutnya program ini sangat relevan dengan program Bela Beli Kulon Progo dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Eko Aryanto, Dukuh Tapen, Kalurahan Hargomulyo, Kamis, (17/12/2020).

Eko Aryanto mengimbau dan mengajak kepada warga perantau Kulon Progo di Jabodetabek untuk tidak melupakan growol sebagai makanan warisan  leluhur. Menurutnya ia sangat bersyukur adanya program Gayeng Regeng Blonjo Bareng (GRBB), karena program ini sangat baik dan tepat untuk meningkatkan pemasaran growol di Jabodetabek. Apabila masyarakat Kulon Progo khususnya di perantauan mendukung budaya makan growol yang luar biasa manfaatnya ia optimis, bahwa ekonomi masyarakat pada industri growol akan terangkat.

“Kepada warga perantau Kulon Progo di Jabodetabek, terlebih para sedulur dari Kokap, mari kita lestarikan budaya leluhur makan growol. Setiap pembelian growol satu ompak, telah berkontribusi terhadap kemakmuran masyarakat di kampung halaman”, ujar Eko kepada para perantau Kulon Progo.

Growol disamping bisa menjadi makanan alternatif yang sangat baik bagi para penderita diabet, bagi yang ingin mengurangi atau mengatasi kegemukan, growol juga sangat baik bagi mereka yang memiliki masalah lambung

Sementara itu, Subandi, salah satu pioneer growol di Hargomulyo memaparkan bahwa ia sudah menekuni usaha growol lebih dari 40 tahun, ia paham sekali bagaimana seluk beluk dan cara membuat growol yang berkualitas. Menurutnya untuk mendapatkan hasil growol yang baik, maka proses pembuatannya harus benar-benar cermat dan teliti, baik dari memilih bahan baku, pengolahan bahan baku sampai proses pembuatan.

“Kalau bahan baku, kami tidak bisa mengandalkan dari Kulon Progo. Karena suplay singkong dari Kulon Progo sangat terbatas dan tidak setabil. Kami harus belanja ke wilayah Jateng seperti di Magelang, Wonosobo dan sebagainya”, jelas Subandi saat menceritakan persoalan produksinya.

Mengenai persepsi masyarakat yang kurang menguntungkan terhadap growol, Rudiyatin, selaku Kepala Jawatan  Sosial Kapanewon Kokap menjelaskan adanya kesalahan dalam presepsi masyarakat. Rasa growol yang agak asem atau bahasa Jawanya kecut, karena akibat banyaknya produk growol yang kurang bagus kualitasnya beredar di masyarakat. Sehingga persepsi tersebut banyak dirasakan dan diamini oleh generasi ke generasi.

“Kalau kita mencicipi growol produksi Pak Bandi ini, tentu kita akan berbeda. Karena growol di sini rasanya enak, lembut dan sama sekali tidak ada rasa kecut. Sehingga bila dimakan dengan tempe besengek, tempe goreng atau bacem, dengan kuah-kuah dan sayuran apapun, pasti cocok dan ketagihan. Tidak kalah dengan nasi dari beras yang enak. Bahkan bisa dinikmati dengan susu kental manis, krawu kelapa, goreng dsb. Kini menjadi tugas kita untuk meluruskan persepsi masyarakat yang salah terhadap growol selama ini. Jangan sampai generasi kita apriori terhadap growol ini”, jelas Rudiyatin.

Ditanya tentang langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah lokal, Rudiyatin mengajak perlunya seluruh elemen masyarakat Kokap untuk bergegas dan cancut taliwondo, singsingkan lengan baju untuk ikut sukseskan GRBB.

“Bakor PKP telah berjuang dan bersusah payah membuka pasar di Jabodetabek yang sangat luas bagi produk lokal Kulon Progo termasuk growol, gula dan sebagainya. Dengan adanya GRBB kita tidak lagi bersusah-susah memasarkan growol dan gula jauh-jauh ke Jakarta. Kita cukup nunggu order dari warga perantau kita. Barang dagangan cukup dikirim ke kantor CV Cakrawala di Pengasih, setoran bisa langsung diterima”, ujar Rudi. MC Kulon Progo/GRBB/hh