Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Pacitan Terapkan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Pemerintah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menerapkan pengelolaan destinasi wisata berbasis masyarakat. Hal tersebut guna membantu perekonomian masyarakat hingga tingkat desa. Terdapat 19 destinasi wisata di Pacitan terdiri dari 9 lokasi dikelola oleh Pemda dan 10 lokasi dikelola oleh desa dan swasta.

Hal tersebut menjadi daya tarik Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk melakukan Prestour bersama Paguyuban Wartawan Kulon Progo terhadap pengelolaan Pariwisata di Pacitan.

Kepala Bidang IKPS, Bambang Susilo, S.Si. M.Eng. menyampaikan Pemerintah Kulon Progo ingin mengetahui lebih dalam pengelolaan pariwisata di Pacitan, terlebih di masa pandemi covid.

“Pacitan mempunyai destinasi wisata alam yang cukup banyak salah satunya yang terkenal adalah Pantai Klayar. Kami mau menggali informasi terhadap pengelolaan pariwisata di Pacitan, terlebih dimasa pandemi ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pacitan, Ir. T. Andi Faliandra. M.M mengungkapkan bahwa pengelolaan destinasi wisata di Pacitan yakni berbasis masyarakat, kami melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya.

“Pariwisata di kami tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Gunung Kidul di Jogjakarta. Pengunjung kami 80% dari Jawa Timur dan Jogjakarta. Masih satu kesatuan wisata dengan Gunung Kidul dan Wonogiri daerah tersebut menyatu dalam geopark Gunung Sewu. Monggo dapat menikmati apa yang ada di Pacitan, pariwisata berbasis masyarakat," ujarnya.

Ir. T. Andi Faliandra. M.M , menyampaikan lebih lanjut tujuan dari pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat guna untuk membantunya perekonomian desa.

“Kami senantiasa memperbaiki pariwisata di Pacitan, berbagai upaya kami lakukan. Dulu kami mengusung pertanian namun sektor pertanian tersebut kami ubah menjadi sektor pariwisata. Khususnya pariwisata berbasis masyarakat. Sejak kunjungannya Pak Susilo Bambang Yudhoyono ke Pantai Klayar, pertumbuhan pariwisata Pacitan sangat nampak. Termasuk di tahun 2019 pendapatan perekonomian kami cukup baik bahkan melampaui target”, katanya.

Menanggapi pengelolaan di masa pandemi covid, Andi berujar bahwa di Pacitan termasuk yang paling terlambat di Jawa Timur dalam menutup obyek wisata.

“Disaat daerah-daerah lain menutup kunjungan, kami masih mempersiapkan masyarakat diseputaran obyek wisata supaya tidak kaget terhadap kondisi di masa pandemi. Setelah itu kami tutup destinasi wisata sekitar 7 bulan," ujarnya

Pihaknya optimis bahwa apa yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan dapat berbuah manis dan sesuai dengan aturan protokol kesehatan.

“Kami konsisten dan berkomitmen dalam membuka obyek wisata di Pacitan, dan tetap tunduk pada protokol kesehatan. Di masa pandemi ini, kami buka destinasi wisata melalui tahap pra simulasi, simulasi, uji coba satu, satu coba dua,” imbuhnya.

Dampak dari tahapan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan yakni jumlah kasus Covid yang pertama paling sedikit di Jawa Timur adalah Pacitan. Dan masyarakat diseputaran obyek wisata lebih siap menghadapi kondisi dimasa Covid. Bukan penyakitnya yang kami takutkan, namun dampak sosialnya. Dengan tidak abai terhadap protokol kesehatan tetap harus diterapkan.

“Kami juga melakukan penjagaan di batas kota, kunjungan ke obyek wisata di masa uji coba dua yakni diberlakukannya kunjungan menggunakan bus dibatasi hanya 2.500 pengunjung di hari Sabtu dan Minggu guna menghindari membludaknya pengunjung dan patuh protkes dengan tidak menciptakan kerumunan,” tambah Andi.

Diakahir pertemuan Andi juga menyampaikan “Jangan percaya terhadap media sosial terhadap keindahan destinasi wisata di Pacitan kalau belum berkunjung langsung, dan melihat langsung. Semoga alam Pacitan dapat layak dikunjungi,” pungkasnya.