KWT Melati Kulon Progo Hadirkan Olahan Abon Cabe

TEMON - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulon Progo bersama Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kulon Progo serta awak media mengunjungi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang berada di Kretek, Glagah, Temon, Kulon Progo, Selasa, (18/8/2020). KWT Melati yang beranggotakan 20 orang ini berupaya memberi kesempatan bagi untuk ikut andil dalam memajukan sektor pertanian, khususnya di bidang industri olahan cabai dan makanan kering. Pemasaran produk di toko oleh-oleh di Yogyakarta dan seluruh Tomira di Kulon Progo.

Sebelum adanya Covid-19, KWT Melati dapat memproduksi Abon Cabe sebanyak 35 kg untuk mensuplay 29 Tomira. Dalam keadaan kering sempurna di mesin, dibutuhkan waktu 48 jam atau sekitar dua hari pengeringan. Dapat juga dilakukan manual dengan sinar matahari, tetapi pengeringan membutuhkan waktu lebih lama, yakni hingga lima hari.

Ketua KWT Melati, Titin Kusnawati merasa jika kehadiran Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) berpeluang baik. “Itu sangat bagus ya, karena kami dibina dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi DIY yang punya nota kesepakatan dengan Angkasa Pura untuk bekerjasama memasarkan produk kami. Kami di sini disediakan tempat, space untuk UMKM. Saya dikontrak sekitar sembilan bulan tahap pertama dan hasilnya lumayan bagus dan ini sangat membantu. Pihak Angkasa Pura juga memberi tempat sekitar,”

Berawal dari bimbingan teknologi (bimtek) yang dilakukan oleh Distanpangan bersama Bank Indonesia yang berhasil menciptakan inovasi Abon Cabe “Nyoss” dengan berbagai varian rasa teri, terasi, original, dan olahan sambal segar. Meski sempat terpuruk ditengah pandemi, harga rendah berada di Rp 2.500,00 hingga Rp 5.000,00 tetapi kehadiran produk olahan tersebut sangat membantu. Untuk bahan baku Titin mengaku tidak mendapat kesulitan karena cabai berasal dari petani yang tersebar di lahan pesisir pantai, Galur, Panjatan, dan Temon.

Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Juliwati, SP MMA  mengatakan fasilitas pemerintah cukup besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui tugas pembantuan. Dari produksi yang ada di Kulon Progo, target tahun 2020 adalah 22.057,82 ton dan pada semester satu baru terealisasi 5.113,4 ton. Sementara itu, sebagai pionir industri olahan cabai KWT Melati pada tahun 2020, Distanpangan berencana mengajak KWT lain mengolah cabai dengan melaksanakan sekolah tentang ilmu olahan cabai sebagai upaya pengembangan produk holtikultura.

“Produk holtikultura belum sepenuhnya diolah sebagai produk olahan. Untuk pengembangan usaha holtikultura berorientasi pada produksi yang diarahkan pada penerapan konsep perkembangan agrobisnis dengan dipadukan pada orientasi, nilai tambah, dan daya saing holtikultura. Untuk peninggakatan nilai tambah dan pengembangan KWT yaitu komoditas cabai.” MC Kulon Progo/Lia/Retri/Hary.