Saparan Rebo Pungkasan Bendung Khayangan, Digelar Dengan Protokol Kesehatan Covid-19

Girimulyo - Upacara adat kenduri Saparan Rebo Pungkasan dan Nguyang Jaran Kepang di bendung Kayangan kembali digelar oleh warga masyarakat Dusun Turuh, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo ditengah pandemi Covid-19. Rabu (14/10/2020).

Dalam acara tersebut turut hadir Bupati Kulon Progo, Dinas Kebudayaan, Panewu Girimulyo, Penanggungjawab (Pj) Lurah Pendoworejo, Pengurus Lembaga Adat Kalurahan Pendoworejo, serta tamu undangan lainnya.

Upacara adat Rabu Pungkasan merupakan rangkaian acara Kenduri bersama Ngguyang Jaran serta Kembul Sewu Dulur, yang merupakan upacara turun temurun serta dilaksanakan secara rutin setiap tahun diakhir bulan Sapar setiap Rabu terakhir.

Pj Lurah Pendowoharjo, Mustakim, S.ST mengatakan bahwa berbeda dengan tahun sebelumnya, berdasarkan peraturan Bupati No 44 tahun 2020 Untuk memenuhi kehendak masyarakat dan kepentingan pencegahan Covid-19 upacara adat ini dilaksanakan secara sederhana mengedepankan makna dan inti upacara adat ini yaitu sebagai sarana doa ungkapan syukur kepada Allah SWT dengan mematuhi protokol kesehatan dalam melaksanakan adaptasi kebiasaan baru.

“Upacara Adat Rabu Pungkasan dalam keadaan normal biasanya dilaksanakan dengan kirab memakai peralatan Jodang Kirab Jathilan dan juga pentas seni. Namun dalam keadaan yang masih tanggap darurat penanganan Covid-19 untuk menghindari kerumunan, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan, sehingga kita harus bersepakat bersama warga dan difasilitasi oleh lembaga adat maka kegiatan ini tetap kita laksanakan secara sederhana,” ucap Mustakim.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Drs.H.Sutedjo mengapresiasi masyarakat Pendoworejo yang masih tetap konsisten melaksanakan tradisi Kenduri Rebo Pungkasan Kembul Sewu Dulur dan juga sekaligus Nguyang Jaran Kepang, dimana acrara tersebut merupakan tradisi yang mempunyai makna sangat lengkap, bermacam – macam makna, ajaran, tuntunan bagi masyarakat maupun generasi penerus.

“Kami mengapresiasi warga masyarakat dengan kesadarannya sendiri ritual rutin setiap tahun tetap dilaksanakan ditengah pandemi. Meskipun tradisi ini diturunkan nenek moyang sejak dulu tetapi di era sekarang ini tetap relevan untuk bagaimana kita memelihara kegotong royongan, kerukunan, kekompakan, guyup rukunan, kita ini dititahkan oleh yang maha kuasa, bahwa alam ini harus kita pelihara dengan sebaik-baiknya, kalau kita mencintai alam insya allah alam juga membalas kecintaanya pada kita,” pungkas Sutedjo. (MC Kulon Progo/Salma/Erika)