Dinas Kominfo Kulon Progo Kuatkan Peranan KIM dan Penanganan Stunting

Sentolo – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulon Progo menguatkan peranan KIM serta penanganan stunting di tengah masyarakat. Bersama beberapa perwakilan KIM di Kulon Progo, Diskominfo mengadakan sosialisasi di Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo pada Jumat (4/9/2020).

Dalam masyarakat, KIM berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat, sebagai mitra pemerintah daerah, sebagai penyerap dan penyalur aspirasi masyarakat, sebagai pelancar arus informasi, dan sebagai terminal informasi bagi masyarakat desa/ kelurahan.

Ketua KIM Nyi Ageng Serang (KIM Nas), Zazin Sulaiman mengatakan bahwa di Kulon Progo baru ada sebelas KIM. Masih beberapa kecamatan/ kapanewon yang belum memiliki KIM, yaitu   Kapanewon Pengasih, Kapanewon Lendah, Kapanewon Galur, dan Kapanewon Kalibawang. Sedangkan untuk Kapanewon Nanggulan memiliki empat KIM dan terbesar serta Kapanewon Sentolo memiliki dua KIM.

“Untuk KIM Nas sendiri sudah ada beberapa organisasi untuk memberdayakan kemasyarakatan, sosial, pertanian, serta bank sampah.” ujarnya.

Perwakilan Diskominfo Kulon Progo, Kabid Informasi Komunikasi Publik dan Statistik, Bambang Susilo, S.Si, M. Eng dalam sambutannya mengatakan, di masa pandemi Covid-19, KIM sebagai komunitas terkait dengan informasi di masyarakat mempunyai peranan dalam penyampaian informasi, baik terkait penanganan dan pencegahan Covid-19 maupun terkait program-program pemerintah atau desa.

“Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pemerintah ini diharapkannya bisa tersampaikan ke masyarakat mengingat di masa pandemi Covid-19, kami tidak bisa mengadakan rapat pertemuan atau kegiatan yang sifatnya mengundang banyak masyarakat. Sehingga, peranan KIM sangat dibutuhkan dalam penyebaran maupun penyambung informasi kepada masyarakat.” kata Bambang.

Bambang Susilo menambahkan, sesuai amanat Perpres 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, KIM juga berperan aktif dalam mensosialisasi dan edukasi serta menyebarluaskan ke masyarakat dengan cara kearifan lokal di desa masing-masing.

“Seperti mensosialisasi bagaimana cara memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, kemudian mengurangi kerumunan masa karena memang sebagian masyarakat masih ada yang bandel terkait wabah Covid ini.” Ujarnya.

Dalam masa pandemi Covid-19, peranan KIM dalam penyebarluasan informasi kepada masyarakat juga dibutuhkan oleh pemerintah untuk mensosialisasi dan mengedukasi masyarakat akan penanganan serta pencegahan Covid-19 di masing-masing kalurahan.

Salah satu Pengurus KIM Ngrojomulyo, Ngrojo, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Nanang Timbul Santoso menjelaskan, pemberdayaan KIM di dalam masa pandemi Covid-19 diharapkan kegiatan KIM bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sesuai tugas dan fungsi KIM jika dikaitkan dengan penanganagan Covid-19 saling berkaitan. Salah satunya adalah berkordinasi dengan pemerintah dan kalurahan setempat. Di dalam koordinasi tersebut pemerintah setempat mengundang KIM dalam rangka bagaimana penanganan dan pencegahan Covid yang ada di kalurahan. “Dari situlah terbentuknya satuan tim gugus tugas tingkat kalurahan. Sehingga, KIM di sini diajak bersama berbicara menyampaikan pendapat suara, bagaimana nanti menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat. Mengingat tugas utama KIM adalah penyampaian informasi dan diharapkan penyampaian informasi tersebut tidak hoaks dengan menyaring, menelusuri kebenaran informasi tersebut, dan jangan sampai membuat masyarakat menjadi ketakutan atau salah dalam menerima informasi.”

“Melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanganan Covid 19 salah satunya dengan mensosialisasi dan edukasi akan gejala-gejala, penularan, serta pencegahan virus Covid-19,” tambahnya.

Tidak hanya sosialisasi dan edukasi terkait penanganan dan pencegahan Covid-19, Penyuluh KB Kapanewon Sentolo, Nur Hadi Yuwono mengatakan bahwa pencegahan stunting juga penting untuk disosialisasikan dan diedukasikan kepada masyarakat.

Menurut Nur Hadi Yuwono, Tuksono adalah salah satu lokus stunting di Kabupaten Kulon Progo. Filosofi Kulon Progo menjadi lokus stunting bukan karena kasusnya, tetapi lebih kepada komitmen pemerintah di dalam penanganan stunting itu sendiri. Ada lima kecamatan dan sepuluh desa, di antaranya adalah Kapanewon Sentolo (Tuksono), Kapanewon Galur (Nomporejo), Kapanewon Pengasih (berjumlah dua), Kapanewon Nanggulan (berjumlah satu), dan Kapanewon Samigaluh.

“Stunting akan berpengaruh sekali kepada generasi mendatang. Stunting di BKKBN lebih fokus kepada penanganan seribu Hak Pasien dan Keluarga (HPK). Saat masa kehamilan betul-betul kita perhatikan, salah satu contohnya dengan pemberian vitamin. Pemberian tablet tambah darah (FE) pada murid SMP, bahkan anak kelas 4-6 sudah menjadi sasaran pemberian tablet FE. Stunting sangat berpengaruh terhadap daya serap kemampuan mengingat. Kita menyediakan seribu HPK karena program prioritas nasional. Stunting ini masalah yang krusial. Tingkat kompetensi kita sekarang luar biasa, era daring, era gadget dengan SDM yang semakin berkurang.” jelasnya.

Nur Hadi Yuwono juga menambahkan usia minimal menikah untuk perempuan di atas 20 tahun dan untuk laki-laki di atas 25 tahun karena dinilai sudah siap secara psikis dan secara ekonomi. Harapannya, dengan kematang usia menikah dapat mengurangi kasus stunting di Kulon Progo dan menjadikan generasi yang berkualitas pada generasi mendatang. MC Kulon Progo/Retri/Dhofin.