Sejumlah Potensi Satuan Inovasi (Satinov) Asal Kab.Kulon Progo Diusulkan IGA 2020

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kab.Kulon Progo menggelar sosialisasi penilaian indeks inovasi daerah, dalam rangka Inovasi Government Award (IGA) 2020, di Aula adikarto, kompleks Pemkab Kulon Progo. Jumat (10/7/2020). Dihadiri seluruh kepala OPD, BUMD dan Panewu se-Kulon Progo.

Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Kulon Progo turut berupaya memberikan kontribusi positif terhadap inovasi daerah dalam rangka peningkatan daya saing.

Ada 15 potensi satuan inovasi (Satinov) setiap OPD di Kab.Kulon Progo, nantinya, satinov tersebut akan diusulkan dalam IGA 2020. Terdapat lima poin penting terkait kriteria penilaian inovasi daerah, diantaranya pembaharuan, manfaat, kepentingan publik, urusan dan kewenagan Pemda dan replikasi atau aplikatif.

Dalam sosialisasi tersebut paparan disampaikan Kepala Bappeda kab.Kulon Progo Triyono, S.IP, M.Si. Ia menjelaskan tentang arah dan kebijakkan pembinaan inovasi ini merupakan implementasi dari UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Dalam penilaian kriteria, bentuk dan penilaian indeks inovasi daerah sesuai dengan PP 38 Tahun 2017 dan Perbup 74 Tahun 2019 tentang Inovasi Daerah.

“Terdapat Dua aspek, tujuh variabel dan 35 Indokator parameter penilaian indikator satuan pemerintah daerah dalam inovasi ini,” ujarnya.

Triyono menamabhkan ada empat tahapan penilaian yaitu penjaringan, pengukuran indeks, presentasi dan validasi lapangan. Sedangkan untuk ketentuan satuan inovasi tersebut adalah inovasi yang penerapannya dimulai sejak 1 januari 2017 sampai dengan 31 Desember 2019, dengan syarat belum pernah diikutkan dengan kegiatan penilaian inovasi daerah.

Sementar itu, Sekretaris Daerah (Sekda) kab.Kulon Progo Ir.RM.Astungkoro,M.Hum berpesan agar inovasi yang dikembangkan jangan hanya terpaku dengan Informasi Teknologi (IT) namun inovasi dapat berupa layanan. Seperti layanan Dukcapil, layanan pendidikan, layanan penganggran desa di penganggran di PMD Dalduk.

“Ide – ide dasar layanan di setiap OPD inilah yang nantinya tersebut dapat dijadikan inovasi, harapannya layanan ini dapat ditata kelola di pemerintahan yang benar – benar menjadi mudah, cepat dan gesit, hal – hal inilah yang menjadi ide setiap OPD sekalian,” ujar Astungkoro

Selain itu, inovasi yang sudah ada harapannya juga dapat dikembangkan, serta inovasi-inovasi yang telah kita buat tersebut, juga terus di evaluasi, menyesuaikan dengan perkembangan dan masalah yang muncul di lapangan.

Adapun 15 potensi satuan inovasi tersebut diantaranya buku komunikasi digital orang tua, guru dan sekolah milik Dindikpora, Publik Safety Center (PSC) 199 milik Dinkes, Merti Kali milik DLH, e-presensi milik BKPP, Senam Angguk milik Khunda Kabudayan dan Panganku milik Dinas Pertanian dan Pangan. (MC Kulon Progo/Har/Dhea).