Program SLI Berikan Dampak Positif Untuk Kemajuan Pendidikan Di Kulon Progo

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kulon Progo dan Kantor Kementerian Agama Kulon Progo bekerjasama menggelar evaluasi dan audiensi program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kulon Progo, di ruang Sadewa-kantor unit 2 Dikpora Kulon Progo. Jumat (19/6/2020). Program SLI Kulon Progo mendampingi 10 Sekolah atau Madrasah di tiga Kapanewon Wates, Pengasih dan Sentolo.

Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian yang sudah diraih SLI Kulon Progo bersama sekolah dampingannya selama tujuh bulan.

Dalam pandemi Covid-19 ini, pendidikan sangatlah penting dalam menunjang perkembangan anak dan remaja. Penting bagi siswa dalam meraih ilmu dan pengetahuan agar kelak bisa berguna bagi bangsa dan Negara. Terlebih disaat ini pembelajaran dilaksanakan dengan jarak jauh ataupun secara daring dan virtual. Hal ini menjadi tantangan di bidang pendidikan untuk berjuang keras melaksanakan kewajiban bagi anak sekolah 12 tahun untuk belajar.

Kepala Dikpora Kulon Progo Arif Prastowo, S.Sos., M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam situasi pandemi saat ini kita dituntut harus lebih kreatif dan inovatif dalam pendidikan agar tidak tergilas dengan negara lain atau dengan  teknologi saat ini.

“Pendidikan harus tetap berjalan walaupun dalam situasi saat ini,  pentingnya disrupsi dan literasi sebagai modal untuk meningkatkan kwalitas pendidikan. Sistem – sistem terdistrupsi oleh model baru, salah satunya belajar secara online atau daring, yang merubah semua tatanan yang sudah ada menjadi berbeda, kita harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut,” ujar Arif

Menurutnya literasi sebagai kunci, modal untuk perubahan dalam memunculkan inovasi terutama di sektor pendidikan, seperti saat ini pendidikan yang biasa dilakukan dengan tatap muka berganti menjadi pembelajaran secra daring atau online.

Sementara itu, perwakilan Konsultan relawan SLI Irfa Ramdhani mengatakan dari 10 sekolah dampingan SLI tingkat kepuasan diukur berdasarkan presentase. Dalam presentasenya dari kalangan kepala sekolah 92 persen dan guru 95 persen. Selain itu, untuk capaian dilihat melalui bagaimana penerapan detail program tersebut.

“Pada rencana awal program pendampingan sekolah ini baru dievaluasi pada akhir 2020, namun namun pada masa pandemi Covid-19 rencana dimajukan dan penarikan relawan dilakukan,” kata Irfa.

Menurutnya walau ada penarikan, program akan terus berjalan agar tidak ngambang, melainkan tetap memberi pendampingan melalui partisipasi masyarakat lokal.

“Dompet Dhuafa terus berupaya agar program tetap terlaksana dengan mengoptimalisasi peran SDM lokal, walau relawan ditarik,” ujar Irfa.

Berharap program SLI terus dilanjutkan dengan lebih banyak lagi sekolah di Kulon Progo yang menjadi sasaran program tersebut. Mengingat SLI memberikan dampak positif untuk pendidikan, khususnya di Kulon Progo. MC Kulon Progo/ren/hr/tr