KT Sido Dadi Keluhkan Jalan Di Sekitar Lahan Pertanian Cabai Masih Belum Mulus

Kelompok Tani (KT) Sido Dadi Trisik, Banaran, Kecamatan Galur, Kulon Progo mulai panen cabai awal Desember 2019. Panen raya cabai kali ini digelar KT Sido Dadi bersama Dirjen Hortikultura dan Bupati Kulon Progo. Jumat (6/12/2019). Panen cabai dengan luas lahan yang seluas 40 hektar.

Ngatimin Ketua KT Sido Dadi, mengatakan total luas lahan garapan petani seluas 120 hektar, dengan luas lahan panen cabai seluas 40 hektar.

“Sedangkan produksi rata – rata cabai menghasilkan 20 ton cabai di pasar lelang. Pada satu musim panen 1 hektar lahan menghasilkan 21 ton cabai,” jelasnya.

Ngatimin menambahkan harga cabai di tingkat pasar lelang mencapai Rp15.000 per kilogram atau naik Rp3.000 dari sebelumnya Rp12.000 per kilogram. Harga cabai dapat berubah setiap hari sesuai hasil lelang.

“Cabai hasil panen di lahan pantai yang masuk pasar lelang dijual ke Semarang, Jakarta, Jambi, Palembang, berharap harga cabai terus naik,” kata Ngatimin

Kendala yang saat ini dihadapi kelompok adalah jalan disekitar lahan pertanian belum bagus atau belum keras, tujuannya adalah mempermudah transportasi hasil pertanian, kemudian akses pemasangan listrik dipermudah dilahan pertanian. 

Sementara, Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo mengatakan fasilitas dari pemerintah tahun ini yang sudah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produksi dan produktifitas cabai antara lain fasilitas/bantuan saprodi benih, pupuk dan mulsa, seluas 50 Ha untuk cabai keriting dan 20 Ha untuk cabai rawit,

“Pembangunan jalan produksi hortikultura di beberapa titik, total sepanjang 2000 meter, pembangunan jaringan irigasi perpompaan dan jaringan irigasi air tanah dangkal, pembangunan bangsal pasca panen cabai dan kelengkapan saran pasar lelang cabai,” ungkapnya.

Sutedjo menambahkan di Kelompok Tani Sido Dadi Trisik Banaran Galur ini mendapat fasilitas pengembangan cabai keriting seluas 10 Ha dari Tugas Pembantuan Hortikultura Tahun Anggaran 2019.

Tentunya bantuan/fasilitasi ini hanya bersifat stimulant, sehingga kelompok tani bisa mengembangkan agar stimulan ini bisa berkembang dan semakin bermanfaat untuk anggota kelompok tani dan bisa menjadi penyemangat dalam berbudidaya cabai, sehingga meningkatkan produksi cabainya.

Kepala subdirektorat (Kasubdit) Bawang merah dan sayuran umbi Dirjen Hortikultura  Ir.Mardiyah Hayati, M.M berpesan agar produksi cabai mampu memenuhi kebutuhan sepanjang waktu, dua hal untuk mengatasinya yakni pengaturan pola tanam dan efisiensi biaya usaha tani.

“Pengaturan pola tanam adalah bagaimana kita mengatur kelopok tani untuk mengantisipasi terjadinya ketidak stabilan produksi sehingga menimbulkan fluktuasi harga,” ungkapnya.  

Pengaturan pola tanam cabai perlu dikomunikasikan antara petani dengan kelompok tani, serta petugas pembina dan penyuluh pertanian dengan menentukan zonasi area dan waktu tanam cabai. Sehingga dapat menentukan pendapatan petani, perlu dilakukan upaya strategis untuk efisiensi biaya disemua rantai produksi cabai. MC Kulon Progo/hry