Terapkan Pendidikan Karakter Melalui Lomba Budaya Kemataraman

Sebagai salah satu cara untuk melestarikan budaya dan permainan tradisional, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kulon Progo menggelar lomba budaya Kemataraman, dilaksanakan pada 13 samapai 14 November 2019, di Alun – alun Wates dan SMP Negeri 2 Nanggulan. Lomba budaya Kemataraman ini diikuti siswa SMP/MTs se-Kabupaten Kulon Progo.

Bidang lomba Kemataraman yang dilombakan adalah sastra Kemataraman, kriya Kemataraman, seni Kemataraman dan krida Kemataraman. Sedangkan untuk kegiatan pada Rabu (13/11/2019) adalah lomba bidang krida Kemataraman diantaranya lomba egrang, gobak sodor dan sepak bola egrang.

Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SMP Asmi Setyaningrum, S.Si., mengatakan kegiatan ini sebagai implementasi penguatan pendidikan karakter yang sudah dicetuskan, sesuai Perbup No.65 Tahun 2017. Sehingga dapat menumbuhkan minat bakat dan prestasi siswa, terutama dibidang olahraga, kriya, seni budaya dan sastra.

“Harapannya kegiatan ini adalah anak – anak akan bisa menumbuh kembangkan budi pekerti atau pendidikan karakter selain itu sebagai perwujudan pendidikan karakter sekaligus sebagai evaluasi kegiatan EksSchool Kemataraman yang sudah dilaksanakan di sekolah sebagai mata pelajaran pilihan wajib,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kulon Progo, Paiman., M.Or. mengungkapkan tujuan kegiatan ini sebagai evaluasi PPK Kematraman yang telah ajarkan dan dilaksanakan di sekolah masing – masing. Untuk bidang lomba ada sastra Kemataraman, kriya Kemataraman, seni Kemataraman dan krida Kemataraman.

“Sebetulnya ada sembilan materi lomba yang direncanakan, namun karena keterbatasan ada yang kita batasi untuk lomba tersebut. Untuk materi lomba krida Kemataraman ada sepak bola egrang putra beregu, gobak sodor beregu putri, lari cepat egrang putra/putri,” ungkapnya.

Paiman menambahkan hampir satu tahun lebih kegiatan ekstra kulikuler, kami berikan materi – materi ini kepada siswa. Walaupun permainan seperti ini sudah ditinggalkan, namun kita coba kenalkan kepada generasi muda dan kita bangkitkan kembali kegiatan ini sebagai budaya warisan leluhur, agar anak – anak cinta dengan budaya sendiri, cinta bangsa dan negaranya. MC KP/hry