Kulon Progo terus lestarikan budaya gotong royong

Budaya gotong royong sebagai inti sari dari pengamalan pancasila terus dilestarikan oleh Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kulon Progo. Meski hari Minggu bukanlah hari kerja, namun di hari itulah wujud nyata gotong royong ditunjukkan dalam kegiatan Bedah Rumah yang dipimpin langsung oleh Bupati Kulon Progo dr. Hasto Wardoyo, pada bedah rumah, Minggu (30/9) di Rumah Mingun, Pedukuhan Giling, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo.

Dr. Hasto mengingatkan pentingnya gotong royong ini karena masyarakat yang "sekeng" atau tidak mampu bila tidak dibantu maka akan sulit untuk punya rumah layak. Seperti halnya rumah Mingun yang kesehariannya berptofesi sebagai supir truk, pondasi sudah sangat lama dibangun tapi tidak mampu melanjutkan.

"Tuksono ini luar biasa, swadayanya paling hebat. Hari ini bantuan untuk Bapak Mingun ada yg bersumber APBDes Tuksono, ditambah dari iuran dan swadaya masyarakat murni,” kata Hasto.

Dari para aparatur ASN Kulon Progo untuk gotong royong ini diwujudkan potong gaji per bulan dengan besaran 2,5% sebagai zakat ataupun besaran sukarela lainnya sebagai infak dan sodaqoh. Pada kesempatan yang sama, dr. Hasto memohon doa restu atas kelancaran pembangunan bandara Kulon Progo, Pemkab mendapatkan alokasi dana dari pusat sebesar 11 triliun yang targetnya pada bulan April 2019 telah dapat digunakan untuk pendaratan pesawat.

Harapan dari Bupati Kulon Progo, tenaga kerja banyak bersumber dari masyarakat Kulon Progo. Guna menyiapkan SDM, maka tahun  2019 Pemkab melalui instansi terkait menargetkan melatih 1700 SDM lokal Kulon Progo untuk lapangan kerja yang berhubungan dengan kebandarudaraan. 

“Keberadaan bandara nantinya akan berdampak besar pada wilayah Tuksono ini, antara lain pada banyaknya industri atau pabrik yang akan beroperasi di sini,” ungkapnya.

Bedah rumah kali ini didampingi oleh Dinas Sosial PPPA, Dinas Kominfo, Bagian Rumah Tangga, Satpol PP dan RS Nyi Ageng Serang (NAS). Menyinggung soal RS NAS, dr. Hasto menyatakan bahwa  dalam hal layanan kesehatan RS Nyi Ageng Serang Sentolo sudah lebih lengkap, telah mempunyai spesialis, bedah, bedah tulang, mata, saraf, THT, anestesi, obsgin, bahkan jiwa.

Selanjutnya akan dibangun khusus satu bangsal untuk perawatan pasien ganggunan jiwa, karena diindikasikan di Kulon Progo tiap 1000 penduduk terdapat tiga penyandang gangguan jiwa. Setelah dari pedukuhan Giling, bedah rumah berlanjut di rumah Ratminah, Pedukuhan Karang, Bapak Gimun di Pedukukan Kalisoko, dan Jowiradi di Pedukuhan Krebet. Bagi masyarakat pedukuhan Karang dan Kalisoko, dr. Hasto menyanggupi untuk mengalirkan air dari PDAM Tirta Binangun, dan telah memerintahkan Direktur PDAM untuk segera menindaklanjutinya. *arh*


Related Articles