SAMBUT PANEN RAYA PERTAMA DI DESA BULAK

Nanggulan—Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia Dr.Ir. Sumarjo Gatot Irianto menghadiri panen raya padi di Bulak Temanggal Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (11/12).

Acara ini dirangkaikan dengan diskusi forum sekaligus penyerahan bibit padi kepada Kelomopk Tani Margo Rukun di kediaman Wakil Bupati yang di hadiri oleh  Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Kementerian RI, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Direktur Pembenihan Tanaman Pangan, Kepala Pusat Karantina, Kepala Balai Besar Pengamatan dan Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Kepala Dinas Pertanian DIY, dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Pangan. Kemudian di lanjutkan dengan peninjauan lahan persawahan yang terkena banjir dan kemungkinan mengalami gagal panen di Kecamatan Galur.

Panen raya ini cukup mendapat apresiasi dari Bupati Kulon Progo dalam sambutan tertulisnya yang di sampaikan oleh Drs.H.Sutedjo selaku Wakil Bupati bahwa Luas Wilayah Kabupaten Kulon Progo ada 58.627.000 hektare penggunaan lahan untuk sawah 10.366.000 hektare, bukan sawah 36.958.000 hektare, lahan non pertanian ada 13.333.000 hektare, sejak tahun 1977-1978 di Kulon Progo ada Peraturan Bupati yang menetapkan pola tanam di Kulon Progo yaitu satu tahun ini ditanami dengan padi-padi palawija, jadi dalam satu tahun dibagi menjadi tiga musim tanam yaitu, musim tanam satu disebut dengan musim rendeng (penghujan) pada musim ini ditanami padi, kemudian pada musim tanam ke dua masih di tanami padi, dan untuk musim tanam ke tiga ditanami palawija. Hal yang melatarbelakangi mengapa di Kabupaten Kulon Progo ini ditanami padi padi palawija, karena sejak tahun 1976-1978 seluruh Kabupaten Kulon Progo ini terkena serangan hama wereng yang luar biasa, kemudian dari sinilah Dinas Pertanian beserta ahli pertanian mengupayakan agar lahan persawahan tidak basah dan lembab agar tidak terkena serangan hama wereng. Untuk produksi  padi untuk Kulon Progo antara 120.000-130.000 ton gabah kering giling per tahun dengan luas tanaman 20.000 hektare, produktivitas 6,4 ton per hektare, dan varietas yang dominan di Kulon Progo diantaranya ciherang, mekongga, dan situbagendit. Dan luas panen minggu ke dua saat ini pada bulan Desember 2017 seluas 4.874 hektare.

Dr.Ir. Sumarjo Gatot Irianto menyampaikan kepada pemerintah daerah setempat Kabupaten Kulon Progo bahwa untuk tanaman palawija khususnya tanaman jagung dapat lebih di maksimalkan untuk lahan yang masih kosong.

“Untuk tumbuhan kedelai yang di jual kalau bisa kedelai yang bukan komoditas melainkan kedelai yang menjual brand, seperti contohnya Waroeng Upnormal yang menjual Indomie seharga Rp.2500 kemudian di kemas sedemikian rupa dan di jual dengan harga Rp.30.000 yang artinya Waroeng tersebut mampu menjual  secara brand. Jadi masyarakat tidak cukup hanya menanam dan sekedar menjual, mengapa murah kalau bisa di jual mahal. Pola ini yang harus di dorong kepada masyarakat Kulon Progo yang menjadi salah satu tugas pemerintah daerah.

 

 

 


Related Articles